Shabar
"Sungguh menabjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusanya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min; yaitu jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bershabar, karena (ia mengetahui ) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. " (HR. Muslim)
Begitu bunyi salah satu hadits Nabi SAW. Sabar, berasal dari bahasa arab yang di comot oleh bahasa Indonesia, dan digunakan dalam bahasa Indonesia secara lumrah. ”Shobaro yashburu” membentuk infinitive(mashdar) "shobron" yang artinya menahan dan mencegah. Menguatkan maknanya dalam firman Allah SWT
Dan bershabarlah kamu bersama oranng-orang yang menyeru Tuhanya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) menharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas. ( QS. Al kahfi/ 18 ; 18 ).
Alkisah, kemarin pada tanggal 27 desember, saya dan temen-teman saya bersiap-siap sejak pagi-pagi sekali. Dimulai dengan mandi pagi jam 07;00, saya dengan sigap mengantri di urutan pertama, sebelumnya saya mengambil handuk dulu dari jemuran di balkon. Memang aneh bagi saya melakukan hal di luar kebiasaan sehari-hari, biasanya saya mulai mandi pada pukul 09:00. sengaja saya awalkan dikarenakan saya berniat berangkat pagi-pagi sekali, bukan untuk ke kuliah, tapi ingin pergi ke kota Dimyath qodimah untuk memperpanjang visa saya selama 1 tahun.
Bagi, mahasiswa asing yang belajar di sini diwajibkan untuk memperpanjang visanya setiap tahun sekali, dengan membayar uang sebesar 11.10 Pound untuk kembali melanjutkan study selama setahun disini, disamping itu, pihak Negara Mesir juga menambah devisa Negara dari sini.
Kembali ke kisah saya, bisa dibayangkan dinginya air waktu itu, memang kebetulan alat pemanas air di rumah saya tidak berfungsi lagi. Terpaksa saya mandi dengan air dingin langsung. Selepas mandi, saya bersiap-siap untuk pergi, setelah sarapan dahulu dengan menu seadanya, saya pun mengecek persyaratan yang dibutuhkan untuk memperpanjang visa. Paspor, surat keterangan kuliah, photocopy paspor dan prihal kedatangan, foto berwawna 1 biji, oops, saya lupa untuk persyaratan yang terakhir. Ya Allah, memang benar, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Saya kebingungan, mengingat stok foto telah habis, gaswat neh. Tiba-tiba saya teringat foto yang dipakai untuk kartu ujian semester genap lalu, karena tak terpakai lagi, tanpa berfikir panjang, saya langsung mencarinya di tas saya,fiuuh..akhirnya ketemu juga.kemudian saya dan teman-teman bergegas menuju terminal dikarenakan waktu sudah menunjukan pukul 08;00.
Singkat cerita, saya dan ke-2 teman saya langsung ambil langkah sigap setelah sampai di halaman kantor migrasi Dimyath di sebrangnya mengalir sungai nil nan indah menawan, sebelumnya kami membeli damgoh(materai) dulu di kantor pos, yang kebetulan bersebelahan dengan kantor migrasi. Setelah itu kami mengambil langkah cepat untuk segera menuju loket pengambilan formulir di lantai 3. sesampai disana, kami bertemu dengan senior kami, yang memang sengaja berangkat duluan dari kita, disana saya melihat sekeliling, ada beberapa rekan-rekan kuliah dari Thailand dan Malaysia untuk memperpanjang juga, kami pun bergegas ke loket pengambilan formulir, kemudian mengisi formulir dengan cepat, dikarenakan waktu sudah menunjukan 09;00, kalau telat sedikit, bisa selesainya besok nih fakir saya dalam hati, setelah merampungkan isi formulir kami ber-3 beranjak ke loket lagi untuk menyerahkan formulir,apa yang terjadi??." El mudir musyhina, mumkin gays sa'ah wahidah "ketus penjaga loket dengan nada tinggi. Ya Allah, tiba-tiba lemes sekujur badan ini, sia-sia rupanya usaha saya untuk cepat menuntaskan ini. " innaAllaha ma'ashobirin ", saya teringat ayat itu.hmmm…apa salahnya ditunggu dulu, barangkali mudirnya lagi buang hajat sebentar dan akan kembali 5 menit lagi.
5 ,10,30..menit, tak terasa waktu telah berlalu, rasa tidak sabaran salah satu temanku pun muncul."nunggu di luar aja yuk, bosen liatin makci terus(sebutan kami pada penjaga loket yang tadi, yang berwajah menyeramkan, lebih seram dari sosok hantu di film-film Indonesia…),Bete". Saya pun ikut aja deh untuk membuat hati temen saya adem dikit, kami pun bergegas mencari tempat yang teduh di pinggiran sungai nil, kami bertemu dengan senior kami disana, yang kebetulan telah menyerahkan formulir dan menunggu untuk mendapatkan hasilnya pukul 3 sore, mereka rela menunggu di pinggiran sungai nil selama kurang lebih 5 jam. Kami pun bergabung dengan mereka, sembari bersanda gurau, rasa gondok pun berangsur-angsur hilang setelah bertemu dengan rekan senasib beda taqdir, dalam hati saya tertawa aja. Detik demi detik kami lalui, menitpun bagaikan buih di sungai nil yang berhamburan, kurang lebih 25 menit kami berada disana, tiba-tiba salah satu teman saya mengajak untuk mencek keadaan di kantor migrasi, sebenarnya saya agak sangsi dengan ajakan teman saya, mengingat watak orang mesir yang salalu menjanjikan jjanji-janji palsu jika sudah mengenai masalah administrasi, mereka lebih memilih menulis tangan ketimbang computer, agak kolot memang, ya hasilnya begini, dia repot, kami pun ikut-ikutan.sedih. sesampinya si kantor, teman saya mengambil inisiatif untuk langsung slonong masuk ke tempat kerja mudir, dan saya pun ikut mengekor saja, Alhamdulillah, makci bermuka hantu tak melihat kami, sibuk dengan kerjaanya. Ketika melongok ke dalam kantor, kami bertemu dengan salah satu keryawan, " aisy eh ya shodiq?".
"Mudir hina ya ustaz?".jawabku sambil menerobos masuk ke ruangan, dan memang mudir ada disana.
Karyawn tadi sebenarnya memberi isyarat tangan untuk keluar, tapi kami memaksa saja masuk mendekati meja mudir. Setelah melobi sebentar, saya pun mengeluarkan keahlian saya memberi alibi buat si mudir.
"ya ustaz, imtihan qod hana, aizin dilwa'ti, 'alasyan el wa'tu lil muzakaroh"
Dari raut muka si mudir nampaknya berhasil nih. Dan memang kami berhasil mengambil hati si mudir, kemudian dia meminta formulir yang telah di isi dan peryaratanya.dengan sigap saya dan teman saya, menyodorkan yang diminta, yang memang sudah kami susun dengan rapih.fiuuuh…mission complete bisiku dalam hati. Diam-diam saya menertawakan teman saya yang satu lagi yang tak ikut kami mencek kantor.(Husy…istighfar atuh, tertawa di atas kesengsaraan teman).
" hudil sa'ah tsalatsah, masyi? "
”Tahta amrok ya ustaz" jawabku.
Setelah bersalaman dan memberi salam ke mudir, kami pun mengambil langkah setngah berlari saking girangnya, tanpa memperhatikan monster di samping kami..sambari tersenyum saya melihat makci yang sedang mengerjakan tugasnya.
Setelah itu kami menunggu di pinggiran sungai nil bersama senior, sembari sedikit meledek teman saya yang gak ikut, eh, taunya temen saya se rumah juga baru datang sendirian dari rumah dengan wajah tanpa dosa, sesampai di rombongan kami, kami menertawainya, dianya nambah bingung, ikut tertawa juga sambil cari tau, setelah itu dia mengajak saya untuk beli baju di pasar," gak jadi ke kantornya?" goda saya.
Dan kami pun tertawa bersama.
Setelah belanja sesuatu, dan sholat dhuhur di masjid yang terbesar di Dimyath, saya bergegas untuk kembali ke pinggir nil, yang mendadak menjadi ruang tunggu.teman sya memilih untuk pulang lagi.
Tak terasa saya menunggu bersama senior disitu selama 2 jam, sambil melihat-lihat orang mincing di pinggiranya, saya berfikir, rupanya filoshofi shabar itu ada di depan mata saya(orang mincing), saya melihat ada 3 orang yang mincing, yang satu terlihat tenang dan shabar menunggu, yang satunya gak karuan memegang alat pancingan, dan yang lainya anak kecil yang gak tau apa-apa. Ternyata orang yang mencing dengan tenang tadi lebih banyak mendapatkan ikan, saya jadi semakin yakin akan sifat shabar membawa berkah.
Ternyata hadits di awal tulisan saya adalah benar, dan itu memang harus kita yakini dan terapkan, karena itu adalah hadits nabi, perkataan yang dijadikan dasar hokum fiqh selain alqur'an. Saya merasa malu pada Rasulullah, karena hari ini saya sempat tidak mendengarkan perkataanya.ashtaghfurullah.
Mudah-mudahan bias kita ambil hikmahnya dari kisah say di atas, memilih shabar itu lebih baik ketimbang buru-buru atau marah-marah.karena shabar adalah salah satu dari sifat yang yang diajarkan oleh agama ini.
Tetep shabar menunggu ya…:D
Gubuk reot, musim dingin.
Di keheningan malam--










0 Response to "Shabar"
Posting Komentar